Home | News | Bisnis | Pemerintah | Olahraga | Pariwisata | Hiburan | Ruang Kosong | Properti | Life Style

Siswi penari Ratoh Jaroe di Asian Games 2018 belum dapat Bayaran
Rubrik: budaya | Jumat, 21 September 2018
Editor: - | Reporter: -

Tarian Ratoh Jaroe di pembukaan Asian Games 2018

Iniriau.com - Kekompakan ribuan siswi se-DKI Jakarta saat menampilkan Tarian Ratoh Jaroe di pembukaan Asian Games 2018 dipuji banyak pihak. Namun sebulan setelah perayaan itu berlalu, seorang siswi yang tergabung dalam kelompok penari Ratoh Jaroe mengaku belum menerima uang atas penampilannya di Pembukaan Asian Games lalu.

"Iya memang belum nerima uang sama sekali dari pihak sekolah," ujar S saat ditemui di SMA 23 Jakarta, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Rabu (19/9).

S mengaku bersama-sama temannya sudah menanyakan kejelasan soal pembayaran tersebut. Namun, pihak sekolah hanya menawarkan untuk jalan-jalan dan membuat jaket untuk kenang-kenangan.

"Ditawarinnya itu mau jalan-jalan apa beli jaket. Tapi kami itu mintanya uang tunai aja," kata S.

Lalu apa kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menanggapi persoalan tersebut? Anies tak mau berkomentar banyak karena bukan wewenang Pemprov DKI.

"Tanya sama mereka dong jangan saya. Kan bukan kita, kata Anies di Balai Kota Jakarta, Jumat (21/9).

Sementara itu saat dikonfirmasi, Wakil Kesiswaan SMA 23 Jakarta, Edi Susilo, membantah pihaknya menahan uang honor kepada para siswa penari Ratoh Jaroe. Edi mengaku pihak sekolah baru menerima transferan termin ketiga untuk pembayaran pada malam kemarin.

Dikatakannya, uang itu diterima dari pihak Lima Arus selaku Event Organizer yang menghubungkan antara pihak sekolah dengan INASGOC.

Edi menjelaskan, pihak Lima Arus memang telah melakukan kesepakatan dengan para siswi dan pihak sekolah terkait uang yang akan diberikan. Tercatat, SMA 23 mengirimkan 83 siswi menjadi penari Ratoh Jaroe terdiri dari 75 penari inti dan 8 penari cadangan.

"Tapi dalam kesepakatan itu bukanlah uang honor, melainkan uang operasional selama para siswi berlatih menjelang Asian Games. Adapun jumlah yang dijanjikan yakni Rp 200 ribu per penari dalam sekali latihan di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat. Memang ada perjanjian kita akan dikirim uang selama tiga kali. Tapi tidak ada kata-kata honor, hanya operasional," ujarnya.

"Jadi uang itu kita gunakan untuk keperluan anak-anak selama latihan, baik itu untuk transportasi, makan dan lain sebagainya," sambung Edi.

Terpisah, Dinas Pendidikan Jakarta memberikan pandangannya soal kabar tersebut.

"Kami sampaikan bahwa ada masalah komunikasi dari masalah yang terjadi. Sesungguhnya kami lihat ada miskomunikasi, kami pandang begitu," kata Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Junaidi.

Terpisah, Inasgoc selaku Panitia Pelaksana Asian Games 2018 memastikan telah memberikan uang operasional kepada 1.600 siswi SMA di Jakarta yang berpartisipasi dalam upacara pembukaan. Ribuan siswi berhasil mencuri perhatian masyarakat dunia kala menampilkan Tari Ratoh Jaroe asal Aceh.

Dia menjelaskan, pihaknya melakukan pembayaran melalui transfer bank ke rekening sekolah asal siswi penari. Selanjutnya, panitia juga memastikan bahwa pembayaran uang operasional telah dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada bulan April, Juni dan terakhir 17 September lalu. Semua bukti pembayaran kepada sekolah terdokumentasi dengan lengkap.

"Panitia sangat berterima kasih kepada para penari, guru dan orang tua mereka yang telah memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. Kerja keras dan penampilan para penari tidak bisa dinilai dengan apapun, tetapi apa yang telah dilakukan akan selalu abadi di hati dan benak seluruh rakyat Indonesia juga dunia," kata Eris dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/9). (irc/merdeka.com)

Artikel Pilihan
GALERI FOTO