Home | News | Bisnis | Pemerintah | Olahraga | Pariwisata | Hiburan | Ruang Kosong | Properti | Life Style

Pak Presiden, Anda Dimana?
Rubrik: kolom | Minggu, 7 Oktober 2018
Editor: - | Reporter: -

eko satiya husada
Iniriau.com - YA AMPUN, ini soal wajah Ratna Sarumpaet kok jadi bikin ribut sejagat ya? Padahal urusannya cuma, bahwa Ratna berdusta soal wajahnya. Dia ngakunya bonyok dipukuli.
 
Orang bersimpati dan mendukung. Namun belakangan dia mengaku bohong. Polisi memperkuat dengan temuannya. Ratna operasi wajah. Done!
Urusan wajah sebenarnya sudah selesai. Tinggal menunggu proses hukum terhadap Ratna karena kebohongannya melibatkan banyak orang. Masyarakat resah. Saling curiga.
 
Kini, urusan wajah sudah ke mana-mana. Prabowo Subianto dan timnya diadukan ke sejumlah perangkat hukum.
 
Tuduhannya, menyebarkan kabar bohong. Prabowo sendiri tak tahu kalau Ratna bohong. Masa sih, Prabowo, Amien Rais dan sejumlah tokoh besar lainnya ikut menistakan dirinya, seperti yang dilakukan Ratna. Tak usah tanya Prabowo. Tanya saja hati nurani Anda.
Tapi, jangan-jangan kita sudah kehilangan hati nurani. Sehingga setiap ada celah untuk bisa menyerang, lakukan. Hajar, bleh!
 
Nggak peduli aksinya ditertawakan orang se-Indonesia-an. Nggak peduli tingkahnya bikin miris. Nggak peduli, egonya bikin nambah persoalan bangsa.
 
Urusan wajah Ratna, mengalahkan persoalan wajah Palu dan Donggala yang remuk redam. Masih banyak korban tertimbun reruntuhan. Masih banyak yang tinggal di bawah tenda plastik, panas jika terik mentari. Makan pun seadanya. Belum lagi mereka harus kehilangan banyak saudara. Mayat masih berserakan dan membusuk di sana. Ironi. 
Bangsa ini terlalu lama larut dalam pertikaian sesama. Saling bermusuhan, yang bahkan sudah menjadi perang terbuka. Tanpa malu. Apapun bisa jadi alat menyerang.
 
Bahkan urusan wajah Ratna.
Ibarat dalam keluarga, kita seakan tak punya orangtua yang mampu menjadi penengah. Arus ego kelompok terus membawa, hanyut. Jika kita mampu berenang, kita selamat. Jika tak, kita ‘mati’.
Sebelum ‘mati’, segeralah sadar diri. Pemimpin harus segera bereaksi. Jadi penengah, penenang hati.
 
Pak Presiden, saatnya beraksi. Anak bangsa semakin tak terkendali. Jangan biarkan pergulatan sosial politik ini membuncah hingga meremukkan wajah negeri. Cukuplah bencana demi bencana menjadi pengingat, untuk kembali kepada hati nurani.
Pak Presiden, saatnya beraksi. Jangan biarkan kami terus bertanya, Anda sedang berada di mana? . 
 
Oleh: Eko satiya Husada
(pemred Indopos)
Artikel Pilihan
GALERI FOTO