Home | News | Bisnis | Pemerintah | Olahraga | Pariwisata | Hiburan | Ruang Kosong | Properti | Life Style

Bupati Sebut Mari Lestarikan Reog dan Kuda Lumping
Rubrik: pariwisata | Minggu, 12 November 2017
Editor: Redaksi | Reporter: Humas Bengkalis

Teks foto: Sejumlah Reog ujuk kebolehan di hadapan Gubri, Arsyadjuliandi Rahman dan undangan pada acara pembukaan Festival Reog dan Kuda Lumping se Kabupaten Bengkalis di Desa Bantan Tengah Kecamatan Bantan, Minggu (12/11/2017) siang. (foto: Humas Be

BANTAN, - Festival Reog dan Kuda Lumping tingkat Kabupaten Bengkalis yang di taja oleh Ikatan Keluarga Jawa Riau (IKJR) secara resmi dibuka Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman yang digelar di lapangan bola kaki Desa Bantan Tengah, Kecamatan Bantan, Minggu, (12/11/17).

Acara tersebut turut dihadiri Bupati Rokan Hilir, Suyatno, Ketua Dewan Penasehat DPP IKJR, Yoyok Wardoyo, ketua DPP IKJR, H Salfian Diliandi, Ketua IKJR Kabupaten Bengkalis, Giyatno, Plt Sekretaris Daerah, H Arianto dan  sejunmlah Kepala OPD di Lingkup Pemerintah Kabupaten Bengkalis.

Aksi Reog dan Kuda Lumping mampu " hipnotis" warga Kecamatan Bantan rela berdesak-desakan, hanya untuk menyaksikan pertunjukan reog dan kuda lumping. Aksi reog dan Kuda Lumping memukau dan mendapat sambutan tepuk tangan dari penonton.

Bupati Bengkalis, Amril Mukminin, pada sambutan sebelumnya mengapresiasi dan menyambut baik festival reog dan kuda lumping tingkat Kabupaten Bengkalis yang digelar hari ini, sebagai upaya pelestarian khasanah seni budaya milik Etnis Jawa di Negeri Melayu.

“Kepada segenap masyarakat keturunan Etnis Jawa di Kabupaten Bengkalis untuk berperan aktif dan saling berkontribusi bagi kemajuan Negeri Junjungan yang kita cintai ini,” Ajak Amril.

Karena menurutnya, Festival Reog se Kabupaten Bengkalis ini, tidak hanya sekadar sebuah pertunjukan, namun jauh dari itu, seni budaya reog mampu memperkuat ikatan emosional.

Lebih lanjut Mantan Kepala Desa Muara Basung ini mengatakan, reog mampu menyatukan orang jawa meskipun reog berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, bukan berarti khasanah leluhur ini milik orang Ponorogo semata, tetapi seluruh masyarakat keturunan Jawa juga merasa memiliki.

“Melalui Festival ini, diharapkan mampu menyatukan seluruh masyarakat, tidak hanya keturunan Jawa, juga suku lainnya yang ada di Negeri Junjungan ini,”tutup Amril.

sumber; humas Bengkalis

Artikel Pilihan
GALERI FOTO