Hot Topic
IniRiau / politik
Kata Pengamat, Gerakan #2019GantiPresiden Bukan Makar
Kamis, 29 Maret 2018
Yasir | Republika
Ilustrasi

JAKARTA, - Pakar media sosial Enda Nasution mengatakan, gerakan #2019gantipresiden bukan gerakan makar. Sebab, gerakan makar berarti menggulingkan pemerintah yang sah, salah satunya melalui kekerasan.

Menurut dia, gerakan tersebut tidak menyalahi konstitusi karena sudah sesuai dengan sistem, yaitu pesta demokrasi lima tahunan. "Kan memang pada tahun 2019 akan ada pilpres lagi nanti 2019," kata dia melalui pesan singkat, Rabu (28/3/2018).

Grup WhatsApp #2019GantiPresiden merupakan gagasan Neno Warisman. Dalam tiga hari saja, muncul 100 WhatsApp Group yang mendiskusikan dan mendukung aksi tersebut.

Kehadiran grup itu pun memunculkan perdebatan di media sosial. Sebagian kalangan berpendapat grup yang viral di internet itu sebagai gerakan makar untuk menggulingkan pemerintah.

Enda menjelaskan, grup itu menunjukkan ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang punya aspirasi untuk mengganti presiden. Apalagi Indonesia sendiri menganut sistem demokrasi.

"Karena sudah masuk ke tahun pilpres, ada trigger atau tidak pasti akan ada yang menyerukan pilih lagi, dan ada yang pengen ganti," tutupnya.

Enda menyampaikan mereka yang mengusung tagar #2019GantiPresiden agar perlu lebih memiliki argumentasi, data dan solusi. "Namun kalau boleh saran mungkin jangan cuma asal ganti, tetapi juga beri solusi, siapa yang diharap bisa jadi calon pengganti," kata Enda.

Hal itu diperlukan untuk meyakinkan masyarakat sehingga tidak hanya gerakan tagar saja. Karena kalau sekedar tagar, ratusan tagar muncul setiap hari di media sosial.

Sebelumnya, salah seorang inisiator gerakan 2019 Ganti Presiden, Neno Warisman, kaget melihat antusiasnya masyarakat menyambut kampanye tersebut. Neno mengaku awalnya dia hanya membentuk WhatsApp Grup (WAG) untuk grup majelis taklim yang diikutinya.

Menurut dia, anggota yang ada di dalam grup WA itu memiliki satu misi, yakni berkeinginan pemilu mendatang menghasilkan presiden baru.

"Kami melarang tidak boleh membicarakan sosok capres. Meski di grup ini terdiri dari berbagai pendukung capres di pilpres nanti," kata Neno menegaskan.

Sumber: ROL