iniriau.com, Pekanbaru - Kontestasi Pemilihan Ketua Komite Olahraga NasionaI Indonesia (KONI) Riau sudah menggema. Saat ini tim TPP yang sudah terbentuk juga sudah menerima SK untuk bekerja. Kedua bakal calon yang ikut serta dalam pertarungan ini adalah Ketua KONI Riau yang masih menjabat saat ini, dan Ketua Komisi III DPRD Riau Edi Basri.
Kontestasi Pemilihan Ketua Induk Organisasi Olahraga ini juga menarik perhatian pengamat politik senior Riau Alfitra Salamm, Selasa (13/1).
Menurut Alfitra, meskipun KONI adalah institusi olahraga, namun kedua calon juga mengusung partai politiknya. Hal ini menjadi semakin menarik, jika bakal calon Ketua KONI Riau calon itu dari partai.
"Ini menarik karena ada ini plus dan minusnya. Sisi positifnya, mempunyai kemampuan memperjuangkan anggaran di pemerintahan, membuat dan memperkuat lobi-lobi di pemerintahan. Nah, sisi negatifnya, persepsi dimasyarakat jika organisasi olahraga dijadikan alat untuk mencapai kepentingan politik," kata Alfitra menjelaskan.
Mari kita lihat sosok seorang Iskandar Hoesin yang maju untuk kedua kalinya sebagai Ketua KONI Riau.
Saat ini, Iskandar Hoesin tengah memasuki yang tidak lagi muda, 86 tahun. Banyak yang menilai sudah tidak sesuai lagi menjadi pemimpin organisasi olahraga tersebut.
Ia seharusnya sudah menikmati masa-masa pensiun. Lalu, mengapa Iskandar Hoesin ikut untuk kedua kalinya, apa alasan keikutsertaannya kali ini? Siapa yang punya kepentingan disini?
Dari partai politik yang diusungnya, Iskandar Hoesin berasal dari partai Nasional Demokrat (Nasdem) Riau. Iskandar Hoesin adalah pria kelahiran tanah rencong, sama halnya dengan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh.
"Iskandar Hoesin dan Surya Paloh sama-sama berasal dari tanah rencong. Dari segi usia, Iskandar Hoesin harusnya menikmati masa-masa pensiun, tidak lagi bergelut dengan aktifitas berat, seperti memimpin organisasi sekaliber KONI Riau. Apa yang saya lihat disini adalah orang-orang terdekatnya, yang juga adalah tim suksesnya. Singkatnya, ada kepentingan disini," ujar Ketua Umum Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut.
Kemudian bakal calon Ketua KONI Riau lainnya adalah Edi Basri. Ia adalah Ketua Komisi III DPRD Riau, yang berurusan langsung dengan keuangan daerah. Edi Basri adalah politisi partai Gerindra Riau.
"Salah satu sisi positif yang dimiliki oleh Edi Basri adalah jabatannya sebagai Ketua Komisi III DPRD Riau. Ia berkaitan langsung dengan keuangan daerah, berhubungan dekat dengan perusahaan-perusahaan di Riau. Jangan lupa, ia adalah politisi partai Gerindra, dan partai itu adalah bentukan Presiden RI Prabowo Subianto. Inilah yang akan membuat kontestasi Ketua KONI Riau semakin menarik, pertarungan partai Nasdem dan partai Gerindra," ujar Alfitra yang juga Direktur Riau Research Center itu.
Meskipun bukan berlatar belakang olahraga, menurut Alfitra, mencari sosok Ketua KONI Riau yang ideal itu cukup sulit. Memimpin KONI harus benar-benar menghayati, punya visi dan misi untuk mengembangkan potensi olahraga di Riau.
Kemudian, sosok Ketua KONI Riau juga harus bisa mencari sumber-sumber anggaran yang tepat sasaran, kemampuan untuk pembinaan atlet, minimal untuk menghadapi PON.
Hal ini tentu saja membutuhkan keseriusan Ketua KONI dan memakan waktu yang banyak, bukan sekedar iseng-iseng belaka atau hanya mengandalkan jabatan ketua saja. Lalu, pencapaian prestasi olahraga di beberapa kompetisi olahraga daerah, nasional dan internasional.
"Menjadi ketua KONI Riau itu tidak bisa hanya untuk iseng saja, atau sekedar mengisi waktu luang. Bisa-bisa yang jadi korban adalah prestasi olahraga daerah dan atletnya," pungkas pria berkacamata itu menutup penjelasannya.
Lalu, siapa yang akan memenangkan kontestasi Ketua KONI Riau? Kita tunggu pelaksanaan Kontestasi Pemilihan Ketua KONI Riau dalam waktu dekat ini.**