iniriau.com, Pekanbaru - Memasuki musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius di Riau. Dengan pola yang tidak jauh berbeda seperti tahun - tahun sebelumnya, membuktikan jika masalah ini belum sepenuhnya teratasi.
Menurut pakar lingkungan Haris Gunawan mengatakan karhutla di Riau terjadi karena rusaknya ekosistem gambut, khususnya sistem air di lahan gambut itu sendiri.
"Gambut itu bergantung sepenuhnya pada air. Jika airnya hilang, tutupan lahan rusak dan gambut terdegradasi. Kondisi ini menjadi pemicu kebakaran lahan yang cukup tinggi," kata Peneliti Senior Pusat Unggulan Iptek (PUI) Kebencanaan dan Gambut Universitas Riau (UNRI) tersebut, Jumat (13/2) di Pekanbaru.
Haris menjelaskan lebih lanjut jika ekosistem gambut yang aman itu jika seluruh komponennya tidak terganggu, yaitu air, tutupan vegetasi dan gambut itu sendiri. Jika ketiga unsur itu rusak, maka kebakaran lahan gambut sulit diatasi. Api merambat dipermukaan dan dibawah lahan gambut yang sudah dibuka, dikeringkan, dan berkanal di sepanjang musim kemarau," kata Haris menjelaskan lebih lanjut.
Kebakaran lahan gambut dilokasi yang sama setiap tahunnya, tidak lepas dari campur tangan manusia. Oleh karena itu diperlukan penguatan peran masyarakat melalui kelembagaan pengelolaan air yang melibatkan akademisi, masyarakat, dan dunia usaha.
"Lahan gambut tidak bisa dikelola oleh salah satu pihak saja, tapi pengelolaannya harus lintas sektor dan lintas wilayah. Saat ini bukan lagi wacana, kita butuh kerja nyata dengan basis ilmu pengetahuan dan bukti dilapangan, agar tidak terjadi lagi bencana yang sama," pungkas Haris menutup penjelasannya.
Kerusakan lahan gambut tidak hanya menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, tapi juga menimbulkan bencana banjir, hilangnya lahan pertanian dan krisis ruang hidup.**