Edukasi Jelang Hari Jantung Sedunia, Daewoong dan PERKI Ingatkan Risiko Angin Duduk

Kamis, 11 Juni 2026 | 17:48:29 WIB
Dari kiri ke kanan: dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC dan dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, berfoto bersama pada acara Heart Talk “Fenomena Angin Duduk: Cukup Dikerok, atau Tanda Bah

iniriau.com, JAKARTA – Kesadaran masyarakat terhadap gejala awal penyakit jantung masih menjadi tantangan di Indonesia. Banyak orang menganggap keluhan nyeri dada atau yang dikenal sebagai “angin duduk” hanya sebagai masuk angin biasa, sehingga terlambat mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Melihat kondisi tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar kegiatan edukasi bagi media di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit kardiovaskular serta pentingnya mengenali gejala sejak dini.

Dalam pemaparannya, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berafiliasi dengan PERKI, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC, menjelaskan bahwa angin duduk bukanlah kondisi yang boleh dianggap sepele. Menurutnya, gejala tersebut dapat menjadi pertanda angina pektoris, yakni kondisi ketika aliran darah dan oksigen menuju otot jantung berkurang.

Ia menjelaskan, gejala yang perlu diwaspadai antara lain rasa nyeri atau tertekan di bagian tengah dada yang dapat menjalar ke lengan, bahu, leher, hingga rahang. Kondisi tersebut bahkan bisa muncul saat seseorang sedang beristirahat.

“Bila tidak segera ditangani, penyempitan atau sumbatan pembuluh darah dapat berkembang menjadi serangan jantung akut dan meningkatkan risiko kematian mendadak,” ujar dr. Febtusia.

Data dari penelitian One ACS Registry yang melibatkan 14 rumah sakit di Indonesia menunjukkan masih banyak pasien yang terlambat mendapatkan penanganan. Pada periode Juli 2018 hingga Juni 2019, sebanyak 34,8 persen pasien infark miokard akut tidak memperoleh terapi reperfusi untuk membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat. Sementara itu, hanya 21,8 persen pasien yang mendapatkan penanganan dalam tiga jam pertama setelah gejala muncul.

Temuan tersebut menjadi gambaran bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengenali nyeri dada sebagai tanda bahaya penyakit jantung. Akibatnya, pasien baru mencari bantuan medis ketika kondisi sudah semakin serius.

Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala, Daewoong juga menyoroti pentingnya pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular, terutama kadar kolesterol jahat atau LDL-C.

Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan pengelolaan LDL-C hingga berada di bawah target yang direkomendasikan dapat membantu menekan risiko terjadinya angina dan komplikasi penyakit jantung lainnya.

Menurutnya, bagi pasien yang belum mencapai target kolesterol dengan terapi statin tunggal atau memiliki kekhawatiran terhadap penggunaan dosis tinggi, kombinasi terapi statin dan ezetimibe dapat menjadi alternatif. Pendekatan ini bekerja melalui dua mekanisme sekaligus, yakni mengurangi produksi kolesterol di hati dan menekan penyerapannya di saluran pencernaan.

“Pendekatan dual-pathway ini dapat menjadi pilihan untuk membantu pasien mencapai target kadar kolesterol secara lebih optimal,” jelasnya.

Sementara itu, Head of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical, Baik In Hyun, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia melalui edukasi dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan.

Ia menyebutkan bahwa selama lebih dari dua dekade beroperasi di Indonesia, Daewoong terus berupaya menghadirkan informasi kesehatan yang akurat dan berbasis ilmiah agar masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan dan pengelolaan penyakit kardiovaskular.

Melalui kerja sama dengan PERKI, diharapkan masyarakat tidak lagi menganggap angin duduk sebagai keluhan biasa, melainkan sebagai sinyal peringatan yang memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, risiko komplikasi serius akibat penyakit jantung dapat diminimalkan.**

Zulifni 

Tags

Terkini