PT Arara Abadi dan BRIN Kembangkan Baung Riau Jadi Komoditas Unggulan

Rabu, 02 September 2026 | 11:14:48 WIB
Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) PT Arara Abadi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) - foto:Humas PT Arara Abadi

iniriau com, SIAK — Ikan baung lokal Riau tengah menjalani proses seleksi untuk dikembangkan sebagai komoditas budidaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mampu beradaptasi dengan kondisi perairan setempat.

Pengembangan ini menjadi bagian dari Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) PT Arara Abadi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program tersebut diarahkan untuk membuka sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Peneliti Pusat Zoologi Terapan BRIN, Jojo Subagja, mengatakan penelitian kini berfokus pada ikan baung hasil domestikasi generasi kedua (G2). Tim melakukan pengukuran pertumbuhan sekaligus melihat kemampuan ikan bertahan di sejumlah kondisi lingkungan.

“Ke depannya dijadikan calon induk untuk mendapatkan generasi berikutnya yang lebih adaptif,” ujar Jojo.

Pengambilan sampel dilakukan di Kampung Pinang Sebatang Timur, Kabupaten Siak, pada Senin (31/8/2026). Penelitian kemudian berlanjut ke Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Rabu (2/9/2026).

Salah satu perhatian peneliti adalah kemampuan baung beradaptasi di perairan dengan tingkat keasaman tinggi. Kondisi ini dianggap relevan dengan karakteristik sejumlah wilayah rawa di Riau.

Dalam pengukuran di salah satu lokasi, tingkat keasaman air tercatat mencapai pH 3,7. Kendati demikian, ikan hasil domestikasi masih memperlihatkan pertumbuhan yang dinilai cukup baik.

“Ini menunjukkan bahwa baung dengan pH rendah cukup adaptif dibanding ikan pada kondisi air normal,” kata Jojo.

Untuk menentukan kandidat indukan terbaik, BRIN melakukan pengukuran bobot, panjang standar dan panjang total ikan. Sekitar seperempat dari populasi dengan performa pertumbuhan terbaik akan dipertahankan untuk proses pembiakan berikutnya.

Ikan dengan panjang total sekitar 17,5 hingga hampir 18 sentimeter menjadi salah satu ukuran yang masuk dalam seleksi.

Jojo menjelaskan, proses tersebut masih panjang sebelum ikan baung dinyatakan layak sebagai komoditas budidaya. Hasil penelitian harus melewati pengujian dan verifikasi dari kementerian teknis.

“Untuk standar budidaya, nanti naskah akademiknya diuji oleh kementerian teknis, yaitu perikanan. Dinyatakan lulus atau tidaknya tergantung hasil ujian itu,” jelasnya.

Selain aspek pertumbuhan, pengujian juga mempertimbangkan fisiologi dan sejumlah parameter lain untuk memastikan ikan hasil domestikasi benar-benar memenuhi persyaratan sebagai kandidat komoditas budidaya.

Direktur PT Arara Abadi-APP Group, Edie Haris, MZ, mengatakan kolaborasi dengan BRIN telah berjalan sejak 2023. Menurutnya, riset ikan baung merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang diintegrasikan dengan upaya pencegahan karhutla.

“Melalui Program DMPA perusahaan tidak hanya hadir untuk mengelola hutan, tetapi juga memberdayakan warga setempat agar memiliki sumber penghasilan yang baik tanpa harus merusak atau membakar lahan,” ujarnya.

Menurut Edie, semakin banyak masyarakat memperoleh penghasilan dari kegiatan produktif dan ramah lingkungan, ketergantungan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan diharapkan ikut berkurang.

Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat penerima manfaat. Tokoh pemuda Sakai di Desa Kesumbo Ampai, Jefri Basir, mengatakan warga mendapat kesempatan mempelajari teknik pengembangan ikan baung yang merupakan komoditas lokal.

“Kami merasa sangat senang karena dapat belajar mengembangkan budi daya ikan baung yang merupakan ikan lokal dengan nilai ekonomis yang tinggi,” ujar Jefri.

Ia berharap pendampingan dan dukungan terhadap kelompok masyarakat terus diberikan sehingga budidaya baung dapat berkembang menjadi usaha berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan warga Suku Sakai.

Jika seluruh tahapan domestikasi dan pengujian berhasil, ikan baung Riau berpeluang dikembangkan lebih luas. Selain memiliki nilai ekonomi dan pasar kuliner yang kuat di sejumlah wilayah Sumatera, budidaya juga dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan ikan tanpa terus mengandalkan hasil tangkapan dari alam.**

Tags

Terkini

Sebulan Terakhir, Tim PHR Padamkan 14 Titik Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 12:41:29 WIB

Nalladia Ayu Lepas Jabatan Ketua Fraksi Golkar DPRD Riau

Rabu, 02 September 2026 | 11:53:22 WIB

UNIQLO Tawarkan Gaya Baru untuk Aktivitas Urban

Rabu, 02 September 2026 | 11:42:51 WIB