24 Ramadhan 1442 H | Kamis, 6 Mei 2021
Kasus Stunting Indonesia Urutan 4 Dunia
nasional | Selasa, 4 Mei 2021
Editor : Rvp | Reporter : -
Ilustrasi

Iniriau.com, JAKARTA - Kasus stunting atau gagal tumbuh pada anak di Indonesia masih cukup memprihatinkan. Menurut catatan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka stunting Indonesia menduduki peringkat keempat di seluruh dunia.

"Jumlah kasus stunting di Indonesia pada 2019 mencapai 27,6%. Angka ini berhasil ditekan dari 37,8% di 2013," kata Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana BKKBN, dr Zamhir Setiawan, M.Epid, dalam webinar 'Smart Sharing: Program Kerja Sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia', Selasa (4/5/2021).

Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu kurang dari 20%. Bahkan, hingga akhir tahun status Indonesia masih berada di urutan 4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara dengan kasus balita stunting tertinggi.

Kondisi stunting atau gagal tumbuh pada anak sangat terkait dengan gizi penduduk yang buruk dalam periode cukup panjang. Tanpa penanganan serius, akan semakin banyak penduduk dewasa dan menua dengan perkembangan kemampuan kognitif yang lambat, mudah sakit, dan kurang produktif.

Masa 1.000 hari pertama atau sekitar 3 tahun kehidupan sejak masih dalam kandungan merupakan masa penting perkembangan ketahanan gizi. Lebih dari 1.000 hari, maka dampak buruk kekurangan gizi akan sulit diobati. Kekurangan gizi pada ibu hamil pun menjadi faktor terjadinya stunting.

"Nutrisi memang mengambil peran penting yang perlu menjadi perhatian lebih bagi calon orangtua baik sejak masa perencanaan, kehamilan, hingga menyusui," tambah Sinteisa Sunarjo, Group Business Unit Head Woman Nutrition Kalbe Nutritionals.

Penyebab tingginya kasus stunting di Indonesia, bukan hanya kurangnya gizi janin dalam kandungan ibu, tetapi juga sebagian kelahiran bayi di Indonesia sudah dalam kondisi kurang gizi, lalu dibesarkan juga dengan kurang zat gizi.

Faktor lain yang memengaruhi adalah buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan, serta faktor internal yaitu kekurangan gizi kronis yang bisa menyebabkan abortus, anemia pada bayi baru lahir, bayi dengan berat badan lahir rendah, cacat bawaan hingga kematian.

"Kekurangan gizi kronis pada anak akan menimbulkan persoalan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di masa depan," terang Sinteisa.

Ia pun menegaskan bahwa upaya menurunkan angka stunting di Indonesia diperlukan kolaborasi. Artinya, pemerintah dalam hal ini BKKBN tak mungkin bekerja sendiri, harus dibantu oleh pihak lain supaya tujuan bersama yaitu menurunkan angka stunting di Indonesia dapat tercapai.**

Sumber: Okezone



    Nasional   Otomotif   Life Style
  Bisnis   Advertorial   Ruang Kosong
  Daerah   Galeri   Pariwisata
  Internasional   Sport   Hiburan
  Hukum   Pendidikan   Griya Interior
  Politik   Budaya   Kisah Inspiratif
    Kota Pekanbaru   Kabupaten Kampar   Kabupaten Rokan Hulu
  Kabupaten Indragiri Hulu   Kabupaten Kuantan Singingi   Kabupaten Rokan Hilir
  Kabupaten Indragiri Hilir   Kabupaten Meranti   Kabupaten Bengkalis
  Kota Dumai   Kabupaten Siak   Kabupaten Pelalawan
      Pemkab Bengkalis   DPRD Kabupaten Bengkalis