iniriau.com, Pekanbaru - Suasana ruang Posko Pengaduan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tidak terlihat ramai, namun terlihat beberapa orang tua calon murid baru silih berganti datang di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Jumat (19/6), di Pekanbaru.
Para orang tua itu datang dengan raut wajah kecewa karena anak-anak mereka gagal diterima di sekolah yang diinginkannya. Seperti Tari, yang datang dengan berurai airmata karena anaknya gagal masuk d salah satu sekolah kejuruan di Pekanbaru.
Dari penuturan Tari, anaknya sudah mencoba mendaftar melalui jalur prestasi namun gagal karena sistem verifikasi terus berjalan. Lalu, ia kembali mendaftarkan anaknya di sekolah kejuruan yang sama dengan jalur afirmasi, masih gagal. Kemudian, ia mencoba mendaftarkan anaknya melalui jalur prestasi non akademik, namun karena kurangnya kehati-hatian dalam menginput data, anaknya kembali gagal masuk di sekolah kejuruan tersebut.
"Saya ke posko pengaduan ini untuk mencari solusi. Apa yang harus saya lakukan agar anak saya bisa diterima di sekolah yang diinginkannya ini? Mana tau ada yang bisa dilakukan seperti memperbaiki data disini," kata Tari dengan nada sedih.
Hal senada juga dialami Emi, ia mencoba mendaftarkan anaknya di salah satu SMA negeri, melalui jalur afirmasi. Namun, karena sistem verifikasi dan ranking tersebut terus berjalan, anaknya gagal diterima di SMA negeri itu.
"Sudah daftar pakai jalur afirmasi, data yang dilampirkan juga sudah lengkap semuanya, tapi tidak paham juga anak saya kurang datanya dimana," tutur Emi dengan rasa kecewa.
Sementara itu, Ketua Posko Pengaduan SPMB Riau, Nila Resmita mengatakan, hingga hari terakhir pendaftaran memang banyak orang tua yang datang melaporkan anaknya gagal di terima di sekolah yang mereka inginkan.
Orang tua yang datang rata-rata adalah anaknya yang mendaftar melalui jalur afirmasi.
"Hampir setiap tahun itu yang paling banyak adalah pengaduan bagi yang mendaftar di jalur afirmasi. Ada yang kurang lampiran dokumen dan datanya, bahkan ada yang salah input sehingga gagal melakukan pendaftaran. Kita juga minta para orang tua sangat berhati-hati saat memasukkan data dan dokumen anaknya," jelas Nila kepada iniriau.com, Jumat sore.
Selama pelaksanaan SPMB tahun 2026, lima hari pertama di posko pengaduan banyak menerima pengaduan karena masalah sistem, titik lokasi dan input data, bahkan hingga hari terakhir pendaftaran masih banyak orang tua salah menginput data anaknya.
Namun, menurut Nila, pengaduan paling banyak itu di jalur afirmasi. Para orang tua mendaftarkan anaknya tanpa data pendukung yang kurang lengkap.
"Masih afirmasi terbanyak, orang tua ada yang kurang datanya seperti ada yang tidak melampirkan kartu PIP, ada yang surat keterangan tidak mampunya tidak sesuai. Ada yang menyatakan dirinya tidak mampu, tapi surat keterangan tidak mampunya tidak ada," lanjut Nila lagi.
Para orang tua calon siswa baru yang gagal diterima di sekolah negeri yang diinginkan, tidak perlu terlalu kecewa. Dinas Pendidikan Provinsi Riau juga membuka jalur afirmasi di sekolah swasta yang juga bekerja sama dengan pihak dinas pendidikan.
"Ada beberapa sekolah swasta yang bekerja sama dengan kita, jalur afirmasi dan gratis juga. Bisa dicoba daftar disekolah tersebut," tutup Nila mengakhiri penjelasannya.
Dari data Posko Pengaduan SPMB Riau, terdata sebanyak 819 pengaduan offline dan online, mulai dari 8 - 17 Juni 2026.**