iniriau com, PEKANBARU — Warga Riau diminta mewaspadai perubahan cuaca pada Selasa (18/8/2026). Meski pagi hari cenderung cerah berawan, hujan ringan diprakirakan turun di sejumlah wilayah mulai siang hingga dini hari.
Forecaster On Duty BMKG, Yasir P., menjelaskan cuaca pagi umumnya berada dalam kondisi kabur hingga cerah berawan. Kondisi tersebut kemudian berubah menjadi cerah berawan hingga berawan pada siang dan sore.
“Hujan ringan berpotensi terjadi pada siang sampai sore di Rokan Hulu, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir,” ujar Yasir.
Memasuki malam, peluang hujan masih terdapat di beberapa daerah. Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir hingga Pekanbaru masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami hujan ringan.
Menurut Yasir, potensi hujan juga dapat berlanjut hingga dini hari, sehingga masyarakat yang beraktivitas di luar rumah perlu memperhatikan perkembangan cuaca.
BMKG belum mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk Riau pada hari ini. Suhu udara diprakirakan berkisar 23-34 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan 50-98 persen.
Angin bertiup dari tenggara menuju barat laut dengan kecepatan sekitar 10-30 kilometer per jam. Sementara kondisi perairan Riau relatif aman dengan tinggi gelombang sekitar 0,5-1,25 meter atau kategori rendah.
Di tengah peluang hujan, pemantauan hotspot menunjukkan masih terdapat aktivitas titik panas di sejumlah wilayah Sumatera.
Hingga Senin (17/8/2026) pukul 23.00 WIB, terpantau 602 titik panas di Sumatera. Bangka Belitung mencatat jumlah tertinggi dengan 172 titik, disusul Sumatera Selatan 165 titik dan Lampung 87 titik.
Untuk wilayah Riau, BMKG mendeteksi 75 hotspot. Pelalawan menjadi daerah dengan sebaran terbanyak, mencapai 38 titik.
Hotspot lainnya ditemukan di Rokan Hulu sembilan titik, Kampar delapan titik, Siak enam titik, Rokan Hilir empat titik, Dumai empat titik, Kepulauan Meranti dua titik, Indragiri Hulu dua titik, serta masing-masing satu titik di Bengkalis dan Indragiri Hilir.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keberadaan hotspot dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama apabila kondisi di lapangan kembali kering.**