Libur Panjang Isra Mi’raj Warnai Pekan Pertama 2026 di Tengah Tekanan Ekonomi

Jumat, 16 Januari 2026 | 08:26:00 WIB

Oleh Zulkarnain Kadir Pengamat Hukum dan Pemerhati Birokrasi

DEFISIT anggaran jadi kata kunci, harga kebutuhan terus menanjak, sementara kepastian kerja dan usaha kian sempit, kekuatan fiskal kian kecil . Di kondisi begini, tanggal merah sering terasa paradoks: diharapkan memberi jeda, tapi justru menambah beban bagi dompet rakyat kecil.

Isra Mikraj sejatinya peristiwa nilai, bukan sekadar hari libur. Ia mengajarkan disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Nilai itu relevan saat negara dan daerah bicara penghematan. Ironis jika rakyat diminta berhemat, sementara kebijakan dan kegiatan justru abai pada rasa keadilan dan prioritas. Ketika ekonomi tak menentu, yang dibutuhkan bukan euforia, melainkan keteladanan.

Bagi masyarakat, libur panjang mestinya dimaknai dengan akal sehat. Bukan ke mana pergi, tapi bagaimana bertahan. Mengencangkan ikat pinggang, menunda yang tak perlu, dan memperkuat solidaritas keluarga adalah pilihan paling masuk akal. Gaya hidup dipaksakan hanya akan menambah luka di tengah ekonomi yang rapuh.

Bagi penguasa, pesan Isra Mikraj harus turun ke bumi: jujur dalam anggaran, tepat sasaran dalam belanja, dan empatik dalam kebijakan. Sebab di tengah defisit dan mahalnya kebutuhan, yang paling mahal nilainya adalah kepercayaan rakyat.

Jika itu hilang, libur berapa hari pun tak akan membawa berkah.Isra Mikraj adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam: perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang sarat makna dan nilai peradaban. Isra Mikraj bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan peristiwa pendidikan moral dan sosial.

Dalam satu malam, Nabi diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu dinaikkan ke Sidratul Muntaha (Mikraj). Dari sanalah perintah shalat lima waktu ditetapkan sebuah pesan tentang disiplin, tanggung jawab, dan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Di luar dimensi spiritual, Isra Mikraj mengajarkan keberanian menghadapi ujian dan konsistensi memegang kebenaran, meski dihadapkan pada keraguan dan penolakan. Nabi baru saja melewati masa duka dan tekanan sosial, namun justru di sanalah penguatan diberikan.

Artinya, di tengah kesempitan dan ketidakpastian, nilai keteguhan dan kejujuran menjadi fondasi utama. Dalam konteks kehidupan hari ini ekonomi sulit, harga mahal, dan anggaran defisit makna Isra Mikraj menjadi sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan angka, tetapi dari tegaknya nilai: amanah dalam kekuasaan, keadilan dalam kebijakan, dan kesederhanaan dalam hidup.

Pendek kata, Isra Mikraj adalah peristiwa penguatan iman sekaligus peneguhan etika sosial. Ia mengajarkan bahwa dari langit diturunkan perintah, agar di bumi manusia hidup lebih tertib, adil, dan bermartabat.Makna Isra Mikraj bagi Pemimpin dan Rakyat

Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa langit, tetapi pesan nilai yang diturunkan untuk kehidupan di bumi. Ia mengandung makna mendalam, baik bagi pemimpin maupun rakyat, terutama di tengah situasi ekonomi sulit dan ketidakpastian sosial. Bagi pemimpin, Isra Mikraj adalah pengingat amanah.

Dari peristiwa inilah lahir perintah shalat ,simbol disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab. Seorang pemimpin yang memahami makna Isra Mikraj seharusnya malu berbuat curang, takut menyalahgunakan kekuasaan, dan sadar bahwa setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Tuhan.

Kepemimpinan bukan soal kuasa, melainkan pelayanan dan keteladanan. Bagi rakyat, Isra Mikraj mengajarkan kesabaran dan keteguhan. Nabi Muhammad SAW menerima peristiwa agung ini setelah melalui masa berat dan tekanan.

Artinya, kesulitan hidup bukan akhir segalanya. Rakyat diajak untuk tetap bekerja jujur, menjaga persatuan, dan tidak larut dalam keputusasaan. Iman yang kuat melahirkan daya tahan sosial. Bagi keduanya, Isra Mikraj adalah titik temu antara langit dan bumi: nilai spiritual harus hadir dalam praktik sosial. Pemimpin wajib adil dan transparan, rakyat wajib taat hukum dan saling menguatkan. Jika nilai ini berjalan seiring, maka krisis ekonomi, defisit, dan mahalnya kebutuhan tidak akan memutus harapan.

Pepatah Melayu mengingatkan: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Artinya, nilai agama harus menjadi dasar perilaku, termasuk dalam memimpin dan hidup bermasyarakat. Tanpa itu, Isra Mikraj hanya akan menjadi peringatan tahunan, bukan tuntunan kehidupan.. mudah2 an riau mendapat kan rekor muri tertaat menjalan kan perintah israk mikraj.. ayo sholat.

Tags

Terkini