Oleh : Denni Hidayat (Kolumnis Lepas)
Latar Belakang
DALAM diskursus psikologi modern, fenomena kerakusan bukan hanya sekadar persoalan moral, melainkan sebuah malafungsi dalam sistem otak manusia yang melahirkan mekanisme pertahanan diri terhadap eksistensinya sebagai makhluk sosial, untuk selalu berada diatas manusia lainnya. Secara psikologis, kerakusan adalah manifestasi dari rasa "Lapar akan Eksistensial" yang tak pernah kenyang. Manusia masuk ke dalam labirin ini tanpa sadar, mengira bahwa setiap belokan untuk menuju "lebih banyak" akan membawa mereka pada pintu keluar bernama "kepuasan". Namun, faktanya, labirin ini didesain untuk meluas dan mendalam layaknya lubang hisap tak berkesudahan layaknya blackhole.
Sebagai makhluk sosial manusia cenderung mengukur keberhasilan diri berdasarkan posisi mereka dibandingkan orang lain (Social Comparison Theory). Hal ini bisa dilihat secara nyata pada era konsumerisme dan social digitalisation sekarang ini, manusia terus-menerus terpapar pada standar hidup mewah orang lain. Hal ini memicu rasa iri dan kompetisi yang tidak sehat. Kerakusan muncul ketika kebutuhan bukan lagi tentang fungsi, melainkan tentang status. Keinginan untuk melampaui orang lain dalam hierarki sosial mendorong seseorang untuk mengumpulkan sumber daya secara berlebihan dan tanpa henti demi mendapatkan pengakuan dan kekuasaan, hasilnya adalah kegersangan karena mengejar sesuatu yang tidak memiliki makna, dan bahkan seringkali mengorbankan nilai kemanusiaan itu sendiri.
Teori Kerakusan
Secara neuropsikologis, kerakusan membajak sistem dopamin manusia yaitu sistem yang membuat manusia terjebak dalam siklus pengejaran yang tidak ada habisnya tanpa pernah merasa puas. Dan ini dijelaskan secara teori Adaptasi Hedonik (Hedonic Treadmill) yang dikemukakan oleh Brickman dan Campbell menurut dia manusia memiliki titik tetap (set point) kebahagiaan. ketika manusia mendapatkan sesuatu yang baru, lonjakan kesenangan terjadi, namun otak segera beradaptasi dan kembali ke titik nol. Akibatnya, sang manusia kembali membutuhkan "dosis" yang lebih besar untuk merasakan level kesenangan yang sama. Inilah yang secara teknis disebut sebagai Toleransi Emosional, mirip dengan mekanisme kecanduan zat adiktif.
Sedangkan penelitian dari Prof. Tim Kasser dalam bukunya The High Price of Materialism menunjukkan bahwa individu dengan nilai materialistik yang tinggi cenderung memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang rendah, kecemasan yang lebih tinggi, dan hubungan sosial yang rapuh, bentuk dari hubungan sosial yang rapuh dapat terlihat dari keinginan untuk mendominasi satu sama lain sehingga hubungan terbentuk dari hasil siapa kuat siapa menang, bukan dari bentuk hubungan kesetaraan yang melahirkan rasa saling perhormatan.
Selain itu, Teori Perbandingan Sosial dari Leon Festinger mengatakan manusia cenderung menilai keberhasilan mereka bukan dari apa yang mereka butuhkan, melainkan dari posisi mereka dibandingkan orang lain. Saat manusia melihat orang lain memiliki "lebih", otak mereka memprosesnya sebagai ancaman terhadap status sosial, yang memicu dorongan rakus sebagai mekanisme bertahan hidup yang salah kaprah.
Mengapa tetap bertahan meski menyadarinya
Fenomena di mana seseorang tetap bertahan dalam labirin kerakusan meski menyadari penderitaannya disebut dengan Sunk Cost Fallacy (Kekeliruan Biaya Tertanam) yang dikombinasikan dengan Fear of Missing Out (FOMO). Secara psikologis, manusia merasa bahwa jika mereka berhenti sekarang, maka semua pengorbanan, waktu, dan penderitaan yang telah dilakukan untuk menimbun kekayaan atau kekuasaan akan menjadi sia-sia. Mereka takut akan kehampaan yang muncul jika obsesi tersebut dihilangkan.
Selain itu, ada fenomena bernama "The Diderot Effect", di mana pembelian satu barang mewah/baru, akan membuat barang-barang lama tampak "hina" dan usang dengan kemewahan tersebut yang kemudian menciptakan lingkaran setan konsumsi menuntut pembelian barang tambahan lainnya agar merasa "lengkap". Pada akhirnya manusia akan terjerat hutang dan terus diperbudak oleh barang-barangnya sendiri. Walaupun sadar seringkali manusia itu kalah oleh rasa takut akan kehilangan identitas yang sudah terlanjur melekat pada simbol-simbol barang yang telah dimiliki tersebut.
Labirin tanpa jalan keluar .
Ketika ketiga fenomena psikologis diatas bertemu Sunk Cost Fallacy, FOMO, dan The Diderot Effect mereka menciptakan sebuah mekanisme "super-trap" yang menjebak manusia dalam labirin kerakusan. Labirin ini menjadi tanpa jalan keluar karena setiap langkah yang diambil untuk "menyelesaikan" justeru malah memperkuat dinding labirin tersebut mari kita bahas mekanisme dan cara kerjanya.
Sunk Cost Fallacy adalah kecenderungan manusia untuk terus melanjutkan suatu usaha (investasi, hubungan, jabatan atau pembelian) hanya karena dia sudah mengeluarkan banyak uang, waktu, atau tenaga di sana, meskipun secara logika peluang keberhasilannya kecil, ini seperti rasa kecanduan judi yang “tanggung kalah” rasa iniah yang menyebabkan alasan mengapa sulit berhenti. Sedangkan Fear of Missing Out (FOMO) adalah rasa kecemasan sosial bahwa orang lain mungkin mendapatkan pengalaman berharga sementara kita tidak, jika Sunk Cost membuat manusia sulit mundur, FOMO adalah dorongan yang memaksa manusia terus maju ke lorong-lorong baru. FOMO membuat manusia tidak pernah puas dengan apa yang ada di tangan karena selalu melihat "apa yang dimiliki orang lain" sebagai standar kebahagiaan, dampaknya adalah terus diburu oleh rasa takut tertinggal. Sementara The Diderot Effect adalah bentuk pengejaran manusia terhadap sebuah fatamorgana. Karena membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena takut kehilangan relevansi sosial, Inilah sebabnya mengapa kerakusan disebut sebagai labirin tanpa jalan keluar karena ketiga efek ini apabila terus diikuti oleh manusia hanya memperkuat keterikatan manusia terhadap materi.
Penutup.
Sebagai kesimpulan sifat rakus adalah penyakit yang obatnya bukan pada "Penumpukan", melainkan pada "pemaknaan kembali" tujuan hidup, Labirin ini hanya dapat diruntuhkan ketika manusia berhenti mengejar sesuatu yang bersifat fatamorgana dan menyadari bahwa jalan keluarnya ada pada kemampuan dirinya untuk berkata, "Ini sudah cukup.”.**