Di Tengah Krisis Ekonomi, Mardianto Manan Ingatkan Makna Sejati Kurba

Rabu, 27 Mei 2026 | 18:52:53 WIB
Akademi Riau, Mardianto Manan, Rabu (27/5). Foto - Astrid

iniriau.com, Pekanbaru - Hari Raya Idul Adha 2026 mungkin agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, perayaan Hari Raya Idul Adha yang dikenal sebagai hari raya kurban ini, hadir ditengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.

Sebut saja harga minyak goreng kemasan yang semakin mahal, BBM subsidi yang mungkin saja akan mulai menghilang, nilai tukar rupiah anjlok, harga plastik melangit dan harga kebutuhan pokok baik lokal maupun impor juga ikut-ikutan naik.

Situasi ini mendapat perhatian dari salah seorang akademisi di salah satu universitas swasta di Pekanbaru, yang juga mantan anggota dewan Komisi I DPRD Riau, Mardianto Manan.

"Kadang lucu rasanya melihat negeri ini, tapi pemerintah pusat maupun daerah terlihat"fine" aja tuh. Lihat angka tukar kurs rupiah, sudah seperti angka di hari kemerdekaan republik ini, Rp 17.845,- per dollar Amerika Serikat, seperti tidak ada rasa khawatirnya," kata Mardianto, Rabu (27/5) di Pekanbaru.

Lanjut situasi ekonomi di Riau, ia juga sampai detik ini terheran dengan provinsi penghasil minyak di Sumatera itu. Ia hampir sering melihat antrian panjang kendaraan di sejumlah SPBU Pertamina di Pekanbaru.

"Di negeri penghasil minyak ini, rakyatnya antri dari Subuh untuk mendapatkan BBM, bak ayam mati di lumbung padi. Tangki-tangki minyak berdiri kokoh perkasa, tapi rakyat di bawahnya memegang jerigen sambil memandang kosong ke langit," ujar Mardianto lagi.

Inikah potret Riau sekarang? Provinsi yang terkenal wah dalam menghelat berbagai iven, namun tersungkur menghadapi badai defisit anggaran. Di tengah situasi ini makna Idul Adha menjadi penting.

Qurban bukan sekedar ritual menyembelih sapi lalu foto selfie bersama tanduk. Qurban adalah belajar bagaimana ikhlas memotong ego, kerakusan, sombong dan nafsu akan kekuasaan.

Nabi Ibrahim diuji Allah SWT bukan karena kemiskinannya, namun diuji karena terlalu mencintai sesuatu hingga lupa jika dunia dan isinya adalah titipan.

"Hari ini daerah dan bangsa Indonesia diuji, tapi jangan lagi rakyat yang menjadi korbannya. Jangan rakyat yang disuruh hemat ini itu, sementara para elite hidup mewah. Potong ketamakan sebelum rakyat memotong kepercayaan kepada penguasa negeri," tukasnya mengakhiri penjelasan.

Qurban mengajarkan jika pemimpin sejati harus siap kehilangan kenyamanan demi rakyatnya. Bukan sebaliknya, rakyat yang selalu paham keadaan. Jika sapi qurban saja rela rebah demi kemaslahatan umat, masa para elite tak rela turun sedikit dari kehidupan mewahnya?**

Tags

Terkini