iniriau.com, PEKANBARU – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini berada di kisaran Rp17.600 per US$1 mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi masyarakat di Provinsi Riau. Jika terus tertekan, nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi menyentuh Rp18.000 per dolar AS.
Ekonom Riau, Edyanus Herman Halim, menilai pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok di daerah, terutama komoditas yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada produk impor, tetapi juga dapat merambat ke berbagai sektor akibat meningkatnya biaya distribusi dan logistik.
“Kalau rupiah terus melemah, harga kebutuhan pokok di Riau juga ikut terdorong naik. Produk yang bahan bakunya impor tentu paling terasa dampaknya,” ujar Edyanus di Pekanbaru, Minggu (25/5/2026).
Ia mencontohkan bahan pangan seperti tahu dan tempe yang masih menggunakan kedelai impor. Kondisi itu membuat harga jual di pasaran rentan mengalami kenaikan ketika kurs dolar menguat.
Selain memicu inflasi, pelemahan rupiah juga dinilai akan menekan daya beli masyarakat Riau, khususnya pekerja dengan pendapatan tetap.
“Masyarakat dengan gaji bulanan akan mulai merasakan tekanan karena pengeluaran semakin besar. Akibatnya, mereka akan lebih selektif dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Dosen Universitas Riau tersebut menambahkan dampak pelemahan rupiah dapat mempengaruhi hampir seluruh lini ekonomi di Riau, mulai dari perdagangan, industri, hingga usaha kecil menengah.
Karena itu, ia berharap pemerintah pusat dapat mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional, termasuk mempertimbangkan kebijakan moneter jangka panjang seperti redenominasi rupiah.**