Perusak Semua Pemusnah Segala

Jumat, 17 Juli 2026 | 08:48:32 WIB
Ilustrasi AI

Oleh : Denni Hidayat
(Kolumnis Lepas)
 

Latar Belakang 
Artikel ini tidak bertujuan menghakimi manusia sebagai makhluk yang jahat walaupun judul yang dipilih sedikit provokatif dan menyentak, tetapi untuk menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan psikologis yang, apabila tidak dikenali dan dikendalikan, dapat berkembang menjadi sifat-sifat yang merusak dirinya sendiri maupun orang lain. Perlu kita sadari bahwa setiap orang hampir pasti pernah bertanya-tanya mengapa dunia dipenuhi oleh berbagai konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi. 

Mengapa seseorang tega memfitnah sahabatnya sendiri? Mengapa seorang saudara dapat bermusuhan hanya karena persoalan harta warisan? Mengapa tetangga merasa tidak senang ketika melihat tetangganya memperoleh rezeki yang lebih banyak dari dirinya? Mengapa seorang pegawai justru berusaha menjatuhkan rekannya yang berprestasi daripada meningkatkan kemampuan dirinya sendiri? Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang lebih sibuk membicarakan kekurangan orang lain dibandingkan memperbaiki kekurangan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan hingga kini masih menjadi salah satu pokok kajian penting dalam psikologi.

Sebagian orang menjawab bahwa penyebabnya adalah karena manusia memiliki hati yang busuk. Sebagian lagi mengatakan bahwa semua itu terjadi karena lingkungan yang rusak. Akan tetapi, psikologi modern memberikan jawaban yang lebih mendalam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan seperti iri, dengki, rakus, marah, dendam, dan keinginan menjatuhkan orang lain sebenarnya berakar pada mekanisme psikologis yang dimiliki hampir setiap manusia. Dengan kata lain, persoalannya bukan terletak pada apakah seseorang memiliki potensi tersebut atau tidak, melainkan apakah ia mampu mengenali dan mengendalikannya sebelum berkembang menjadi perilaku yang merusak.

Inilah kenyataan yang sering kali sulit diterima. Banyak orang menganggap dirinya adalah orang yang baik. Namun ketika melihat keberhasilan orang lain, muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan dan itu nyata terjadi dalam perasaan. Ketika mendengar tetangganya membeli rumah baru, ada sedikit rasa sesak di dalam hati. Ketika teman sekantor memperoleh promosi jabatan, muncul pikiran bahwa mungkin promosi itu terjadi karena kedekatan dengan atasan, bukan karena prestasi. Perasaan-perasaan seperti ini sering kali muncul begitu cepat sehingga seseorang bahkan tidak menyadarinya. Padahal, dari sinilah berbagai konflik sosial sering kali bermula.

Psikologi tidak memandang kemunculan perasaan tersebut sebagai bukti bahwa manusia dilahirkan jahat. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa otak manusia berkembang melalui proses evolusi yang sangat panjang untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Dalam proses itu, manusia belajar memperhatikan status sosial, sumber daya, penerimaan kelompok, dan posisi dirinya dibandingkan orang lain.

Mekanisme yang dahulu membantu manusia bertahan hidup inilah yang pada masyarakat modern dapat berubah menjadi iri, dengki, keserakahan, dan permusuhan yang memiliki daya rusak yang tinggi apabila tidak diimbangi oleh kemampuan mengendalikan diri.

Daya Rusak yang tidak disadari

Psikologi membuktikan sifat-sifat destruktif yang berkembang di dalam diri manusia sendiri seperti iri, dengki, keserakahan, kebencian, dendam, dan keinginan menjatuhkan orang lain tampak hanya sebagai persoalan batin. Padahal, ketika sifat-sifat tersebut dibiarkan berkembang, dampaknya tidak berhenti pada diri pelakunya. Ia mampu merusak keluarga, menghancurkan persahabatan, memecah hubungan sosial, bahkan mengguncang stabilitas masyarakat, kemudian yang membuat sifat-sifat tersebut sangat berbahaya adalah kenyataan bahwa kerusakannya hampir selalu dimulai dari sesuatu yang sangat kecil. 

Tidak ada keluarga yang hancur dalam satu hari. Tidak ada persahabatan yang putus hanya karena satu kalimat. Tidak ada organisasi yang runtuh hanya karena satu keputusan. Hampir semuanya diawali oleh perubahan kecil di dalam hati seseorang yang tidak pernah disadari, kemudian tumbuh perlahan hingga akhirnya menguasai cara berpikir, cara menilai orang lain, dan cara bertindak.

Contoh nyata dalam kehidupan masyarakat, konflik antar saudara sering kali bukan bermula dari kebencian, melainkan dari perbandingan yang terus-menerus dilakukan selama bertahun-tahun. Misalnya, dua orang kakak beradik dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ketika dewasa, salah satu berhasil menjadi pengusaha yang sukses, sedangkan yang lain tetap hidup dalam kondisi ekonomi biasa saja. 

Pada awalnya tidak ada masalah namun sedikit demi sedikit muncul perasaan bahwa orang tua lebih bangga kepada anak yang berhasil. Setiap pujian kepada saudaranya mulai terdengar seperti penghinaan terhadap dirinya sendiri. Lama-kelamaan setiap keberhasilan saudaranya tidak lagi dipandang sebagai kebahagiaan keluarga, tetapi sebagai ancaman terhadap harga dirinya. 

Dari sinilah iri mulai tumbuh, apabila perasaan tersebut tidak disadari, hubungan persaudaraan perlahan berubah. Percakapan menjadi semakin dingin. Pertemuan keluarga mulai dihindari. Kesalahan kecil diperbesar. Kebaikan diabaikan. Akhirnya, hubungan yang dibangun selama puluhan tahun jadi rusak hanya karena hati tidak lagi mampu ikut bergembira atas keberhasilan saudaranya sendiri, proses inilah yang diajukan oleh Leon Festinger sebagai teori psikologi sosial “Social Comparison Theory”. ketika hasil perbandingan tersebut dianggap sebagai ukuran harga diri. Pada saat itulah keberhasilan saudara sendiri diterjemahkan sebagai kekalahan pribadi.

Contoh lain tentang dua orang sahabat memulai perjalanan bersama awalnya Mereka saling membantu, saling mendukung, bahkan bercita-cita untuk sukses bersama. 

Namun ketika salah satu memperoleh promosi jabatan, beasiswa, atau penghargaan, muncul perubahan yang hampir tidak disadari. Sahabat yang dahulu paling sering memberi semangat mulai mencari kelemahan temannya. Ia merasa tidak nyaman mendengar pujian yang diberikan kepada sahabatnya. Bahkan dalam beberapa kasus, ia mulai menyebarkan cerita yang dapat merusak reputasi temannya., Ironisnya, hubungan itu tidak rusak karena keberhasilan salah satu pihak. Hubungan itu rusak karena salah satu pihak tidak mampu mengelola rasa terancam di dalam dirinya sendiri, Rasa tidak nyaman saat mendengar sahabat dipuji memicu mekanisme pertahanan diri yang destruktif: "Aku tidak bisa menyamai prestasimu, maka caraku agar kita setara kembali adalah dengan menjatuhkan reputasimu." Yang dalam psikologi emosi, disebut Malicious Envy.
Kemudian contoh dalam rumah tangga, banyak pasangan mengira bahwa penyebab utama perceraian adalah persoalan ekonomi.

Padahal penelitian psikologi hubungan menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kebencian yang dipelihara, penghinaan, rasa tidak dihargai, dan hilangnya kepercayaan sering kali menjadi penyebab yang lebih menentukan, bayangkan seorang suami yang mulai merasa iri terhadap keberhasilan karier istrinya. Setiap pencapaian istrinya tidak lagi dipandang sebagai keberhasilan keluarga, tetapi sebagai ancaman terhadap harga dirinya sebagai kepala keluarga. 

Sebaliknya, seorang istri dapat merasa dengki ketika melihat perhatian suaminya lebih banyak diberikan kepada pekerjaan dan hobby serta pertemanan daripada keluarga. Apabila perasaan-perasaan tersebut tidak dibicarakan secara terbuka dan dikelola dengan baik, keduanya mulai saling menyerang melalui sindiran, kritik, dan penghinaan. Lambat laun, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi tempat yang paling melelahkan secara emosional. Dikenal dengan teori The Four Horsemen of the Apocalypse oleh Dr. John Gottman.
Daya rusak sifat-sifat destruktif tidak berhenti pada tingkat individu.

Ketika iri, dengki, keserakahan, dan haus kekuasaan berkembang di dalam organisasi, akibatnya dapat berupa konflik berkepanjangan, penyalahgunaan wewenang, hingga korupsi. Dalam organisasi yang sehat, keberhasilan seseorang menjadi keberhasilan bersama. Namun ketika budaya iri dan persaingan yang tidak sehat lebih dominan, energi organisasi habis untuk saling menjatuhkan daripada bekerja sama mencapai tujuan bersama, sejarah menunjukkan bahwa banyak organisasi, perusahaan, bahkan pemerintahan mengalami kemunduran bukan semata-mata karena kurangnya kemampuan, tetapi karena hilangnya kepercayaan di antara orang-orang yang bekerja di dalamnya. 

Ketika setiap orang lebih sibuk mempertahankan statusnya sendiri daripada membangun kepentingan bersama, organisasi perlahan kehilangan daya hidupnya, fenomena ini disebut sebaga teori "Social Dilemma" yang dikembangkan oleh Dawes (1980) & Messick (1983).

Bagaimana mengatasi sifat busuk hati menurut Psikologi Modern

Kesalahan pertama manusia adalah selalu menganggap bahwa iri, dengki, keserakahan, dan kebencian hanya dimiliki oleh orang lain. Ketika melihat seseorang memfitnah, seseorang segera berkata, "Untung saya bukan seperti dia." Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa hampir semua manusia memiliki kecenderungan untuk melindungi citra dirinya sendiri. 

Fenomena ini dikenal sebagai self-serving bias, yaitu kecenderungan melihat diri sendiri lebih baik daripada kenyataannya, Psikolog Emily Pronin menunjukkan melalui penelitian tentang bias blind spot bahwa manusia jauh lebih mudah melihat bias pada orang lain daripada pada dirinya sendiri. Ironisnya, orang yang paling yakin dirinya objektif sering kali justru paling sulit menyadari biasnya sendiri, untuk itu mulailah berkata, "Kemungkinan sifat itu juga ada di dalam diri saya." kalimat sederhana ini merupakan awal dari kesadaran psikologis.

Perilaku destruktif hampir tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ia berkembang melalui tahapan yang sangat kecil. Pertama muncul rasa tidak nyaman, kemudian muncul perbandingan, lalu muncul rasa kalah, setelah itu muncul iri, Iri berkembang menjadi prasangka, prasangka berkembang menjadi pembenaran, pembenaran berkembang menjadi tindakan.

Semakin awal seseorang mengenali proses tersebut, semakin mudah ia menghentikannya, misalnya, ketika mendengar tetangga membeli rumah baru, muncul rasa sesak di dalam dada. Sebagian orang langsung mengikuti perasaan itu. Namun orang yang memiliki kesadaran psikologis berhenti sejenak dan berkata, "Saya sedang merasakan iri. 

Perasaan ini bukan berarti tetangga saya bersalah. Perasaan ini muncul karena saya sedang membandingkan diri." Dengan berkata begitu menurut hasil penelitian mengenai emotion regulation menunjukkan bahwa kemampuan memberi nama terhadap emosi (affect labeling) dapat menurunkan intensitas aktivasi amigdala, yaitu bagian otak yang berperan dalam respons emosional. 

Penelitian oleh Matthew D. Lieberman menunjukkan bahwa sekadar mengidentifikasi dan menamai emosi dapat membantu mengurangi reaktivitas emosional, dan menurunkan tekanan dari rasa Iri dengki tapi harus dengan kesadaran bahwa ini bentuk perasaan yang tidak berguna. 
Psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia secara alami melakukan social comparison. Mekanisme ini tidak dapat dihilangkan karena merupakan bagian dari cara manusia belajar mengenai dirinya sendiri, namun penelitian juga menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang terus-menerus, terutama terhadap orang yang tampak lebih sukses, berkaitan dengan meningkatnya rasa iri, kecemasan, dan menurunnya kepuasan hidup, dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hal ini semakin nyata terlihat di media sosial. 

Seseorang membuka telepon genggam hanya lima menit, tetapi dalam waktu singkat ia melihat teman yang sedang berlibur ke luar negeri, kerabat yang baru membeli mobil, rekan yang memperoleh promosi, dan keluarga lain yang tampak selalu bahagia. Tanpa disadari, otaknya mulai membandingkan kehidupannya yang penuh tantangan dengan "cuplikan terbaik" kehidupan orang lain. Perbandingan seperti ini sering kali tidak adil karena membandingkan kenyataan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain.

Penelitian oleh Niels van de Ven menunjukkan adanya perbedaan antara benign envy dan malicious envy, Benign envy membuat seseorang berkata, "Kalau dia bisa berhasil, saya juga akan belajar agar bisa berkembang." sebaliknya, malicious envy berkata, "Kalau saya tidak bisa mendapatkannya, lebih baik dia juga gagal." perbedaan keduanya bukan terletak pada keberhasilan orang lain, tetapi pada cara seseorang menafsirkan keberhasilan tersebut, orang yang mampu mengubah iri menjadi motivasi justru mengalami peningkatan usaha dan pembelajaran. 

Sebaliknya, orang yang membiarkan iri berubah menjadi dengki akan menghabiskan energinya untuk menjatuhkan orang lain tanpa memperbaiki dirinya sendiri dan ini berhubungan dengan Empati. Data psikologi sosial menunjukkan bahwa empati mengurangi kecenderungan untuk memusuhi orang lain. 

Ketika seseorang berusaha memahami pengalaman, perjuangan, atau kesulitan orang lain, ia akan sulit mempertahankan kebencian yang dibangun atas dasar stereotip atau prasangka, misalnya, seorang pegawai mungkin hanya melihat bahwa rekannya mendapatkan promosi.

Namun setelah mengetahui bahwa rekannya telah bertahun-tahun bekerja lembur, mengikuti pelatihan tambahan, dan memikul tanggung jawab keluarga yang berat, keberhasilan itu tidak lagi tampak sebagai ancaman, melainkan sebagai hasil dari perjuangan yang panjang. Empati mengubah cara seseorang memaknai keberhasilan orang lain.

Penutup

Ilmu psikologi modern memberikan satu pelajaran yang sangat penting. Musuh terbesar manusia bukanlah keberhasilan orang lain, melainkan reaksi batinnya sendiri terhadap keberhasilan orang tersebut. Iri, dengki, keserakahan, dan kebencian tidak menghancurkan kehidupan dalam satu malam. Semuanya berkembang melalui proses yang dimulai dari perbandingan sosial, diperkuat oleh bias kognitif, dipelihara oleh ruminasi, lalu diwujudkan dalam tindakan yang merusak hubungan, namun penelitian juga menunjukkan bahwa proses tersebut dapat diputus. 

Kesadaran diri, kemampuan mengenali emosi, pengaturan emosi, rasa syukur, empati, serta keberanian untuk mengubah cara memandang keberhasilan orang lain merupakan faktor-faktor yang secara konsisten dikaitkan dengan hubungan sosial yang lebih sehat dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.

Pada akhirnya, kebahagiaan terbesar manusia bukanlah ketika ia memiliki lebih banyak daripada orang lain. Kebahagiaan terbesar adalah ketika ia mampu melihat keberhasilan orang lain tanpa kehilangan kedamaian di dalam dirinya sendiri. 

Pada saat itu, manusia tidak lagi diperbudak oleh perbandingan, melainkan menjadi pribadi yang benar-benar merdeka secara psikologis. Inilah inti dari apa yang dalam psikologi disebut kemampuan mengelola diri (self-regulation), dan yang dalam banyak tradisi moral disebut sebagai kematangan Jiwa.**

Tags

Terkini