BMKG: Kabut Asap di Riau Dipengaruhi Pergerakan Asap dari Luar Daerah

Selasa, 15 September 2026 | 16:56:38 WIB
Asap yang menyelimuti Pekanbaru Selasa (15/9/2026) - foto:Betty

iniriau com, PEKANBARU – Kondisi udara di sejumlah wilayah Riau kembali dipengaruhi kabut asap. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyebut asap yang terpantau di Riau tidak seluruhnya berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di dalam provinsi.

Kepala BMKG Pekanbaru, Warjono, mengatakan hasil pemantauan satelit menunjukkan adanya pergerakan asap dari kawasan di selatan Riau. Kondisi tersebut berkaitan dengan pola angin yang saat ini bergerak dari arah tenggara dan barat daya menuju barat laut hingga utara.

“Berdasarkan pola angin dan citra sebaran asap yang kami pantau, terdapat potensi kiriman asap dari wilayah di sebelah selatan Riau,” ujar Warjono, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, asap dapat berpindah mengikuti arah angin sehingga kondisi atmosfer di suatu wilayah tidak selalu mencerminkan sumber kebakaran yang berada di wilayah tersebut.

Data BMKG menunjukkan jumlah hotspot di Pulau Sumatera mencapai 4.127 titik hingga Selasa siang. Sebaran terbesar berada di Sumatera Selatan dengan 2.878 titik, kemudian Lampung 468 titik, Bangka Belitung 318 titik dan Jambi 285 titik.

Sementara itu, Riau tercatat memiliki 96 hotspot.

Untuk pemantauan pukul 00.00 hingga 14.00 WIB, BMKG Riau mendeteksi 29 hotspot. Seluruh titik tersebut berada pada tingkat kepercayaan sedang.

Sebaran hotspot itu meliputi 19 titik di Indragiri Hulu, empat titik di Kuantan Singingi, tiga titik di Pelalawan, serta masing-masing satu titik di Dumai, Rokan Hilir dan Indragiri Hilir.

Warjono menjelaskan, citra sebaran asap yang dipantau BMKG pada pukul 13.00 WIB memperlihatkan massa asap di sejumlah wilayah Sumatera. Pergerakannya cenderung menuju barat laut mengikuti pola angin dari tenggara.

Selain itu, pemantauan massa udara regional juga menunjukkan adanya lintasan dari kawasan Kalimantan menuju sekitar Kepulauan Riau, Singapura dan Malaysia.

“Untuk mengetahui kondisi secara utuh, kita harus melihat secara bersamaan titik panas, citra sebaran asap serta arah dan kecepatan angin,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Riau, Edy Afrizal, memastikan temuan adanya asap kiriman dari luar wilayah tidak membuat penanganan Karhutla di Riau dihentikan.

Ia mengatakan setiap kebakaran yang ditemukan di wilayah Riau tetap menjadi tanggung jawab pemerintah dan tim gabungan untuk segera ditangani.

“Kami tidak menutup mata bahwa masih terdapat Karhutla di Riau. Setiap titik api tetap menjadi tanggung jawab kita untuk ditangani,” kata Edy.

Menurutnya, kondisi kualitas udara perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Sebab, konsentrasi asap di suatu wilayah dapat dipengaruhi kebakaran dari beberapa daerah dan kemudian terbawa angin.

Saat ini, penanganan di lapangan melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api dan berbagai unsur terkait.

Upaya pemadaman dilakukan melalui operasi darat yang diperkuat dengan water bombing serta Operasi Modifikasi Cuaca apabila kondisi atmosfer memungkinkan.

Edy menegaskan, seluruh pihak perlu mengutamakan penanganan sumber kebakaran sekaligus perlindungan terhadap masyarakat.

“Tidak perlu saling menyalahkan dari mana asap berasal. Fokus kita adalah memastikan setiap kebakaran di Riau ditangani, mencegah munculnya titik api baru dan melindungi masyarakat dari dampak asap,” ujarnya.

Ia menambahkan, Karhutla merupakan persoalan lintas wilayah karena asap yang dihasilkan dapat bergerak mengikuti dinamika angin dan tidak mengenal batas administratif.**

Tags

Terkini