Kenaikan Harga Picu Inflasi Riau 2,37 Persen pada April 2026

Kenaikan Harga Picu Inflasi Riau 2,37 Persen pada April 2026
Aktifitas disalah satu pasar tradisional di Pekanbaru (foto:Dok Iniriau)

iniriau.com, PEKANBARU – Laju inflasi di Provinsi Riau pada April 2026 tercatat masih dalam kondisi terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau melaporkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,03.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut mencerminkan peningkatan harga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada April 2025, IHK berada di angka 109,44 dan naik menjadi 112,03 pada April tahun ini.

“Secara tahunan terjadi inflasi 2,37 persen, yang menunjukkan adanya kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Jika dilihat dari wilayah, Tembilahan menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, yakni sebesar 3,61 persen dengan IHK 113,32. Sementara itu, Kabupaten Kampar mencatat inflasi terendah sebesar 1,51 persen dengan IHK 112,57.

Menurut Asep, tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan hingga 12,57 persen, disusul kelompok pendidikan sebesar 5,08 persen.

Selain itu, kelompok makanan dan minuman, restoran, transportasi, serta kesehatan juga turut memberikan kontribusi terhadap inflasi. Di sisi lain, beberapa kelompok justru mengalami penurunan harga, seperti perlengkapan rumah tangga serta rekreasi, olahraga, dan budaya. Secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau mengalami inflasi sebesar 0,17 persen pada April 2026. 

Namun secara kumulatif sejak awal tahun (year to date/y-to-d), masih tercatat deflasi sebesar 0,15 persen. Sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi tahunan, di antaranya emas perhiasan, daging ayam ras, tarif angkutan udara, beras, telur ayam ras, hingga nasi dengan lauk. Sebaliknya, komoditas seperti cabai merah, bawang putih, dan kentang justru menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga.

Untuk inflasi bulanan, kenaikan harga dipicu oleh komoditas seperti bawang merah, angkutan udara, minyak goreng, ikan, serta bensin. Asep menambahkan, struktur inflasi Riau masih didominasi oleh kelompok tertentu.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan sebesar 0,94 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,50 persen.

“Secara umum kondisi inflasi di Riau masih stabil. Meskipun ada kenaikan harga pada beberapa komoditas, namun tetap berada dalam batas yang terkendali,” tutupnya.**

#Bisnis

Index

Berita Lainnya

Index