iniriau.com, Bengkalis — Krisis air baku kembali menghantam Perumda Tirta Terubuk Bengkalis. Hujan deras dua hari terakhir tak mampu menambah debit air waduk yang hampir kering. Kondisi air yang sangat keruh membuat teknologi Nanofilter tidak dapat beroperasi.
PDAM pun terpaksa kembali memakai metode pengolahan konvensional berbahan kimia. Dampaknya, produksi air bersih anjlok dari 65 liter per detik menjadi hanya 30 liter per detik, sementara biaya produksi melonjak hingga 200 persen.
“Turbiditas tinggi membuat Nanofilter lumpuh. Dengan sistem konvensional, produksi turun menjadi 30 liter per detik dan biaya naik dua kali lipat,” kata Kepala Bagian Teknik Perumda Tirta Terubuk, B. Harry Kumbara, Sabtu (29/11/2025).
Penurunan produksi membuat tekanan air melemah dan tidak menjangkau pelanggan yang tinggal jauh dari pusat distribusi.
“Produksi sedikit, tekanan air juga menurun. Rumah pelanggan yang jauh hanya terisi angin, bukan air. Kami mohon maaf atas kondisi ini,” ujarnya.
Keluhan datang dari warga. Ijal, warga Kelurahan Rimba Sekampung, mengaku sudah lebih dari sebulan tak mendapat aliran air bersih. Bahkan penghuni rumah petaknya memilih pindah karena tidak ada suplai air.
“Ini bukan sekadar masalah teknis. Dampaknya sudah masuk ke kesehatan, ekonomi, bahkan kondisi sosial masyarakat,” ujar Ijal.
Ia menilai manajemen PDAM gagal mencari solusi krisis air baku yang terus berulang. Menurutnya, pemerintah daerah harus turun tangan mengevaluasi pengelolaan perusahaan tersebut.
“Masalahnya selalu sama setiap tahun. Kalau Dirut tidak mampu, Bupati harus berani menggantinya,” tegasnya.**