iniriau.com, PEKANBARU – Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah gambut terus menjadi perhatian berbagai pihak. Di Kabupaten Pelalawan, Riau, pemerintah bersama APP Group memperkuat langkah antisipatif melalui pengelolaan tata air gambut yang berkelanjutan guna menekan potensi kebakaran sejak dini.
Komitmen tersebut terlihat dalam kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Jumhur Hidayat, ke sejumlah lokasi pengelolaan gambut di Pelalawan. Dalam kegiatan itu, Menteri meninjau langsung berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menjaga kelembapan lahan gambut, termasuk pembangunan sekat kanal dan sistem pemantauan muka air tanah.
Jumhur menegaskan bahwa menjaga kondisi gambut tetap basah merupakan langkah paling efektif untuk mencegah munculnya titik api, terutama saat musim kemarau.
“Pengaturan tata air melalui pembangunan sekat kanal menjadi salah satu cara penting untuk mengurangi risiko kebakaran lahan gambut. Ini merupakan bentuk mitigasi yang harus dilakukan secara bersama-sama,” katanya.
Dalam agenda tersebut, rombongan mengunjungi sejumlah titik, di antaranya Desa Pangkalan Terap, kawasan operasional PT Arara Abadi Distrik Merawang, Desa Pulau Muda di Parit Sri Mawar, hingga Pulau Mendol. Di lokasi tersebut dipaparkan berbagai program pengelolaan air gambut yang melibatkan perusahaan, pemerintah, dan masyarakat setempat.
Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata, mengatakan bahwa pencegahan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika kebakaran terjadi. Menurutnya, langkah yang lebih penting adalah memastikan ekosistem gambut tetap terjaga melalui pengelolaan air yang baik dan sistem pemantauan yang berkelanjutan.
“Pencegahan harus dimulai sebelum muncul api. Penguatan tata kelola air, pemanfaatan teknologi pemantauan, serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga kawasan gambut tetap aman dari ancaman kebakaran,” ujarnya.
Di Desa Pangkalan Terap, dukungan perusahaan diwujudkan melalui pembangunan 13 sekat kanal untuk mempertahankan ketersediaan air di kawasan gambut. Infrastruktur tersebut berfungsi menghambat aliran air keluar sehingga kelembapan lahan tetap terjaga.
Sementara di Desa Pulau Muda, perusahaan turut mendukung pembangunan enam sekat kanal serta normalisasi saluran air sepanjang 900 meter. Kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pembasahan lahan dan memperkuat upaya pencegahan karhutla berbasis tata kelola air.
Dukungan serupa juga diberikan di Pulau Mendol melalui pembangunan sekat kanal yang dilengkapi sistem pengatur aliran air. Infrastruktur ini diharapkan mampu menjaga stabilitas kondisi gambut pada kawasan yang rentan mengalami kekeringan.
Selain pembangunan fisik, APP Group juga mengoperasikan sistem pemantauan tinggi muka air tanah di wilayah operasionalnya. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi gambut tetap sesuai standar pengelolaan yang ditetapkan serta mendukung deteksi dini terhadap potensi kebakaran.
Suhendra menambahkan, keberhasilan pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan hingga masyarakat di sekitar kawasan gambut.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, perusahaan juga menjalankan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi desa. Program ini diharapkan dapat memperkuat budaya pencegahan kebakaran di tingkat masyarakat.
Melalui pendekatan pengelolaan karhutla yang terintegrasi, APP Group menegaskan komitmennya untuk mendukung perlindungan ekosistem gambut serta menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah operasional perusahaan.**