iniriau.com, Pekanbaru — Sudah dua hari ini kota Pekanbaru dan sejumlah daerah di Riau terkepung asap tebal. Asap yang menutupi sejumlah daerah di Riau ini dipastikan berasal dari sejumlah provinsi tetangga seperti Jambi dan Sumatera Selatan.
Hal ini disampaikan Kepala BPBD Riau, M. Edy Afrizal, Rabu (7/10) di Pekanbaru. Ia menegaskan mulai Senin (5/10) lalu, wilayah Riau sudah bersih dari titik api besar. Asap yang menutupi kota Pekanbaru dan daerah lainnya adalah asap kiriman provinsi tetangga yang berdekatan dengan Riau.
"Di Riau saat ini hanya 5% dan hampir nihil karhutla. Asap yang ada merupakan asap kiriman, yang terbawa angin dari Sumsel dan Jambi," kata Edy Afrizal.
Saat ini di Riau, hanya tersisa tujuh titik panas kecil yang bukan merupakan kebakaran besar. Satu titik api di Pelalawan yang terdeteksi bukan kebakaran lahan, tetapi berasal dari asap pabrik.
Sementara itu, dari data yang dihimpun iniriau.com dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena asap tebal ini dipicu oleh angin monsun selatan-tenggara yang bergerak dengan kecepatan 10–20 km/jam dari arah tenggara menuju barat laut-utara.
Pergerakan angin ini meniup lurus asap tebal dari Sumsel dan Jambi ke arah atas, hingga akhirnya menumpuk di wilayah Riau. Dari pantauan citra satelit Himawari-9 BMKG bahkan telah mendeteksi sebaran asap ini meluas ke Riau, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, hingga Sumatra Selatan.
Aktifitas Warga Kota Pekanbaru Terbatas, 27 Warga Terken ISPA
Asap tebal yang menutupi kota Pekanbaru otomatis mengganggu seluruh aktifitas warganya. Kualitas udara yang berada di status berbahaya mulai melumpuhkan sejumlah kegiatan warga kota bertuah.
Seperti Dinas Pendidikan kota Pekanbaru kembali memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di rumah selama dua hari terakhir.
PJJ ini juga mendapat respon yang kurang baik dari beberapa orang tua di Pekanbaru. Seperti Sri yang mengaku sistem PJJ ini menurutnya kurang efektif karena anak belajar di rumah tidak maksimal.
Sri mengatakan PJJ juga sedikit mengganggu aktifitasnya sebagai ibu yang juga bekerja dikantor.
"Saya rasa tidak efektif, karena anak suka tidak fokus kalau belajar di rumah. Mereka isi pikirannya main kalau di rumah. Belum lagi tugas dari sekolah juga banyak, tugas yang satu belum selesai, tugas yang baru sudah datang lagi. Saya kewalahan karena juga memiliki pekerjaan diluar rumah," kata Sri saat diwawancara iniriau.com, Rabu siang.
Sri hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini. Asap tebal beberapa hari ini sudah di level berbahaya, dan pemerintah kota Pekanbaru sudah mengeluarkan surat edaran untuk belajar di rumah.
"Bagaimana lagi ya, suka tidak suka harus ikut situasi. Pemerintah kota Pekanbaru sudah meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Apa boleh buat jadinya belajar dirumah," tukas Sri lagi.
Sementara itu, dari Puskesmas Harapan Raya Pekanbaru terdata 27 orang warga kota Pekanbaru terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Meskipun jumlahnya mencapai puluhan, Kepala Puskesmas (Kapus) Harapan Raya Wahrida meminta warga kota Pekanbaru membatasi kegiatan diluar rumah, khususnya dari kelompok usia rentan
"Dari Senin kemarin hingga hari ini, total semua pasien ISPA di Puskesmas Harapan Raya terdata sebanyak 27 orang. Saya minta kelompok usia rentan ini mengurangi aktifitas diluar rumah, karena asapnya sangat tebal sekali," kata Ida singkat.
Kapus Harapan Raya kembali mengingatkan warga untuk menggunakan masker saat diluar rumah dan menerapkan pola makan sehat dan memperbanyak konsumsi air putih.**