iniriau.com, BANDUNG – Pengelolaan kadar kolesterol, khususnya Low-Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C), dinilai masih menjadi tantangan besar dalam penanganan pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Fakta tersebut mengemuka dalam simposium ilmiah yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia pada ajang Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PERKENI ke-14 Tahun 2026 di Bandung.
Dalam forum yang mengangkat tema Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes itu diungkapkan bahwa hanya sekitar 4,9 persen pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi yang berhasil mencapai target kadar LDL-C di bawah 55 mg/dL sesuai rekomendasi pedoman medis.
Simposium yang berlangsung di sela-sela PIT PERKENI 2026 tersebut dihadiri sekitar 500 tenaga kesehatan dari berbagai daerah, mulai dari dokter spesialis endokrinologi, dokter penyakit dalam, hingga peneliti.
Senior Endocrinologist Eka Hospital BSD, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, mengatakan pengendalian kolesterol menjadi bagian penting dalam tata laksana diabetes karena banyak pasien memiliki risiko penyakit jantung dan pembuluh darah secara bersamaan.
"Pasien diabetes tipe 2 umumnya memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular. Karena itu, penurunan kadar LDL-C harus menjadi prioritas agar risiko komplikasi dapat ditekan," ujarnya.
Ia menambahkan, strategi terapi perlu disesuaikan dengan tingkat risiko masing-masing pasien sehingga target LDL-C dapat dicapai lebih cepat sesuai rekomendasi berbagai pedoman internasional.
Sementara itu, Prof. Da-Hye Seo dari Inha University Hospital, Korea Selatan, menjelaskan bahwa terapi kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin dapat menjadi pilihan bagi pasien yang belum berhasil mencapai target kolesterol hanya dengan terapi tunggal. Kombinasi tersebut bekerja menghambat pembentukan kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapannya di usus.
Data yang dipaparkan dalam simposium juga menunjukkan tingginya beban penyakit kardiovaskular di Indonesia. Penyakit ini tercatat menyebabkan lebih dari 765 ribu kematian pada 2021. Di sisi lain, penelitian di Indonesia menemukan sebagian besar pasien diabetes melitus tipe 2 juga mengalami dislipidemia, sehingga meningkatkan risiko komplikasi jantung.
CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menghadirkan inovasi terapi bagi pasien penyakit kronis di Indonesia. Menurutnya, Daewoong juga akan memperkuat kolaborasi penelitian berbasis data pasien lokal guna menghasilkan bukti ilmiah yang lebih relevan bagi masyarakat Asia, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.**
Zulifni