Illusi Pikiran yang Menipu Manusia

Illusi Pikiran yang Menipu Manusia
Ilustrasi

Oleh : Denni Hidayat
(Kolumnis Lepas)

Latar Belakang 
SEORANG  ayah melihat anaknya pulang larut malam tanpa memberi kabar. Tanpa bertanya terlebih dahulu, ia langsung menyimpulkan bahwa anaknya mulai tidak menghormati dan melanggar aturannya, pikiran seperti ini terus dia tanamkan dalam dirinya secara berulang walaupun dengan peristiwa yang berbeda. 

Padahal kenyataannya telepon sianak kehabisan baterai setelah membantu temannya yang mengalami kecelakaa. Karena kesimpulan awal sudah terbentuk, setiap penjelasan sianak dianggap sebagai alasan untuk membela diri dan bentuk perlawanan. 

Akhirnya percakapan berubah menjadi pertengkaran, jadi jelas yang menyebabkan pertengkaran bukan peristiwa keterlambatan anak itu lagi, melainkan kesimpulan si ayah yang muncul sebelum fakta dikumpulkan.

Atau kita pernah menelpon seorang teman dan mengirim WA, tapi sang teman tidak membalas pesan selama berhari-hari, Pikiran mulai bekerja dan bertanya-tanya "Mungkin dia marah." "Mungkin dia tidak lagi menghargai saya." "Mungkin dia sengaja menghindari saya." dst, Padahal  kejadian sebenarnya telepon si teman sedang rusak dan sedang ditempat service, pokok masalahnya terlihat jelas sudah bukan pada peristiwa telp atau WA yang tidak dijawab tapi adalah prasangka yang sudah terbentuk (cara otak menafsirkan informasi) secara berulang, akibatnya setiap tindakan berikutnya ditafsirkan sebagai bukti persahabatan yang mulai rusak.

Seorang suami pulang tanpa banyak berbicara, dengan wajah masam dan itu terjadi berulang kali, Istrinya langsung berpikir, "Pasti dia marah kepada saya." Karena urusan kemarin atau urusan apapunlah yang terpikir oleh si isteri. 

Padahal suaminya sedang memikirkan masalah dan terbebani di tempat kerja atau tempat lain yang memang terjadi setiap hari, karena istri sudah yakin suaminya marah, ia ikut bersikap dingin dan mengabaikan keberadaan suaminya, Suami yang semula hanya lelah akhirnya benar-benar merasa diabaikan dan mulai merasa ada masalah di rumah, konflik pun muncul penyebabnya yang memulai bukan kenyataan, tetapi interpretasi yang salah terhadap kenyataan.

Seorang pengusaha pernah sukses menggunakan suatu strategi tertentu, karena keberhasilan tersebut ia yakin strategi yang sama pasti berhasil lagi. Namun ketika kondisi pasar berubah, dan ia tetap mempertahankan cara lama dan selalu berkata pada dirinya ini adalah cara yang sudah terbukti benar. kemudian menolak masukan dari timnya karena merasa pengalaman masa lalunya sudah cukup, perusahaannya akhirnya kalah bersaing. keberhasilan masa lalu berubah menjadi penghalang untuk melihat kenyataan baru, dan ini banyak terjadi di kalangan pengusaha bisnis kuliner atau cafe, yang cepat berkembang tapi juga cepat tumbang.

Banyak lagi contoh lainnya tapi jika kita mencermati seluruh contoh tersebut, tampak bahwa kognitif bias berdampak menghancurkan, tapi ketika dianalisa lebih dalam bias ini hampir tidak pernah menghancurkan hanya dengan satu penilaian, kerusakannya justru muncul melalui akumulasi penilaian kecil yang dilakukan setiap hari dan berulang, seseorang tidak kehilangan sahabat karena satu peristiwa, tetapi karena berulang kali salah menafsirkan niat sahabatnya. Seseorang tidak kehilangan keluarganya karena satu pertengkaran, tetapi karena terus-menerus menganggap dirinya selalu benar dan orang lain selalu salah. Demikian pula kebencian, prasangka, dendam, dan fanatisme jarang muncul secara tiba-tiba; semuanya tumbuh dari cara berpikir yang secara perlahan membangun gambaran tentang dunia tanpa mau menguji terhadap kenyataan yang sebenarnya.

Apa itu bias kognitif dan kenapa bisa terjadi ?
Bias kognitif adalah pola penyimpangan yang sistematis dalam cara manusia menerima, mengolah, mengingat, dan menggunakan informasi sehingga menghasilkan penilaian atau keputusan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan, kata "sistematis" ini sangat penting karena faktor bias bukan sekadar kesalahan yang terjadi secara kebetulan. 

Jika seribu orang ditempatkan dalam situasi yang sama, sering kali sebagian besar akan melakukan kesalahan yang sama dengan pola yang sama. Karena itu, bias dipandang sebagai karakteristik cara kerja sistem kognitif manusia.

Namun demikian perlu disadari bahwa bias kognitif bukan berarti otak manusia "rusak". Dari perspektif evolusi dan psikologi modern, bias sering kali merupakan efek samping dari mekanisme mental yang pada umumnya justeru sangat berguna. Otak harus mengambil keputusan dengan cepat, menggunakan energi secara efisien, dalam menghadapi informasi yang tidak lengkap. Penyebab bias kognitif tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. 

Berdasarkan penelitian selama beberapa dekade, bias muncul dari interaksi berbagai mekanisme biologis dan psikologis, sebagai berikut :

Pertama, Herbert A. Simon memperkenalkan teori Bounded Rationality dia mengatakan bahwa kapasitas otak manusia terbatas seperti keterbatasan informasi, keterbatasan waktu, keterbatasan kapasitas pemrosesan kognitif. Sementara otak menerima jutaan rangsangan setiap detik, tetapi hanya sebagian kecil yang dapat diproses secara sadar. Oleh karena itu, otak harus melakukan penyaringan informasi. Informasi yang dianggap penting diproses lebih lanjut, sedangkan sisanya diabaikan. Penyaringan ini membuat pengambilan keputusan menjadi efisien, tetapi juga membuka peluang terjadinya bias karena sebagian informasi tidak pernah dipertimbangkan.

Kedua, Gerd Gigerenzer mengatakan bahwa Heuristik sebagai hasil adaptasi evolusioner, dan otak mengandalkan heuristik, Heuristik adalah aturan praktis yang memungkinkan seseorang mengambil keputusan dengan cepat tanpa harus melakukan analisis yang rumit. Heuristik merupakan hasil adaptasi evolusioner yang sangat berguna. Namun, aturan sederhana tersebut tidak selalu sesuai untuk semua situasi. Ketika lingkungan berubah atau masalah menjadi lebih kompleks, heuristik dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru dan bahkan dapat mencelakakan.

Ketiga, Jonathan Haidt mengatakan dalam pengambilan keputusan Emosi mendahului penalaran Moral, yang memengaruhi perhatian dan interpretasi informasi. Penelitian Jonathan Haidt ini menunjukkan bahwa emosi bukan sekadar reaksi setelah berpikir, melainkan ikut menentukan informasi mana yang dianggap penting sejak awal. Ketika seseorang sedang marah, takut, atau iri, perhatian dan penilaiannya terhadap dunia ikut berubah. Informasi yang sejalan dengan emosinya lebih mudah diterima, sedangkan informasi yang bertentangan lebih mudah diabaikan dan bias pun terjadi yang berujung kepada penyesalan karena penalaran moral tidak dilakukan.

Keempat, Hermann von Helmholtz mengatakan bahwa persepsi sebagai Inferensi pengalaman masa lalu yang membentuk cara otak memprediksi masa depan. Ilmu saraf modern memandang otak sebagai sistem prediktif (predictive brain). Otak terus-menerus menggunakan pengalaman sebelumnya untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi berikutnya. Prediksi ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat menyebabkan seseorang melihat dunia bukan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana yang ia harapkan atau yang ia takuti.

Secara sederhana, proses terbentuknya bias dapat dijelaskan sebagai sebuah siklus yang terus berulang, proses dimulai ketika seseorang menerima suatu informasi dari lingkungan. Informasi tersebut tidak langsung dipahami secara objektif. Sebelum mencapai kesadaran, informasi telah melewati penyaringan yang dipengaruhi oleh perhatian, pengalaman, emosi, keyakinan, dan tujuan pribadi, setelah penyaringan terjadi, otak mencoba memberikan makna terhadap informasi tersebut menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. 

Setelah itu heuristik mulai bekerja, otak tidak selalu mencari penjelasan yang paling benar, tapi sering kali mencari penjelasan yang paling cepat dan paling masuk akal menurut pengalaman sebelumnya, Interpretasi yang telah terbentuk kemudian memengaruhi respons emosional. Emosi tersebut selanjutnya memperkuat perhatian terhadap informasi yang sejalan dengan keyakinan yang telah terbentuk. Akibatnya, seseorang semakin yakin bahwa pandangannya benar, meskipun mungkin hanya melihat sebagian kecil dari kenyataan karena disini ada keterbatasan informasi, keterbatasan waktu dan keterbatasan kapasitas koginitif manusia itu sendiri, Apabila proses ini berlangsung berulang-ulang, bias akan semakin kuat dan dapat berubah menjadi keyakinan yang sulit diubah. Inilah sebabnya mengapa banyak orang tetap mempertahankan pendapatnya meskipun telah dihadapkan pada bukti yang bertentangan dengan apa yang diyakininya.

Apa akibat Bias Kognitif ?
Pada tingkat individu  bias kognitif dapat menyebabkan seseorang mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri. Contoh seseorang yang terlalu percaya diri mungkin akan melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri yang menimbulkan sifat arogansi dan secara tidak sadar dirinya akan menjadi public enemy dimusuhi rekan sekerja, anak buah bahkan oleh boss, kemudian contoh lainnya ketika seorang pengusaha salah menilai risiko investasi yang menyebabkan kerugian materi tapi dia tetap bertahan dengan bias tersebut, orang seperti ini biasa disebut juragan bogor biar terkenal walaupun tekor, selain itu contoh kerugian lainnya bisa terlihat pada bentuk hubungan yang tidak sehat dan saling menyakiti antar individu, karena enggan mengakui keputusan yang keliru karena malu, sehingga menyebabkan terjadinya kegalauan, tekanan mental yang kuat dan melelahkan.

Sedangkan pada tingkat hubungan sosial dan masyarakat, bias dapat melahirkan prasangka, konflik, stereotip, dan kesalahpahaman. Seseorang cenderung menilai kelompoknya sendiri lebih baik daripada kelompok lain, lebih mudah mempercayai informasi yang mendukung identitas kelompoknya, dan lebih sulit menerima sudut pandang yang berbeda, karenanya bias kognitif dapat memperkuat polarisasi politik, penyebaran disinformasi, diskriminasi, bahkan konflik berkepanjangan. Dalam era media sosial, algoritma sering memperlihatkan informasi yang sesuai dengan preferensi pengguna. Akibatnya, bias yang semula hanya terjadi di dalam pikiran individu dapat diperkuat oleh lingkungan digital, sehingga setiap kelompok semakin yakin bahwa pandangannya adalah satu-satunya kebenaran.

Penutup.
Sebagai kesimpulan sistem kognitif adalah "mesin berpikir" manusia, Di dalam sistem ini terdapat berbagai tahapan proses berpikir manusia seperti, persepsi (bagaimana kita melihat dan mendengar), perhatian (apa yang kita fokuskan), memori (apa yang kita ingat), penalaran (bagaimana kita menyimpulkan), pengambilan keputusan (bagaimana kita memilih tindakan). Bias kognitif muncul karena seluruh proses tersebut bekerja sebagai sistem dan mekansme biologis yang harus menyeleksi, menyederhanakan, dan menafsirkan informasi.

Mekanisme ini bisa menjadi sumber kecerdasan luar biasa ketika sesuai dengan konteks, tetapi juga dapat menjadi sumber kesalahan ketika digunakan pada situasi yang tidak tepat, inilah alasan mengapa memahami bias kognitif bukan sekadar upaya menghindari kesalahan berpikir karena memahami bias juga berarti memahami bagaimana otak membangun realitas yang kita yakini, asal kita sadar bahwa setiap yang kita pikirkan belum tentu satu kebenaran, maka akan lebih mudah untuk menerima seluruh informasi untuk mendekati kebenaran yang lebih objektif, sebagai intermezo dari penulis, penelitian psikologi terkait kognitif bias ini telah berhasil menjawab pertanyaan kenapa Syu’uzon sangat dilarang, untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia.**

#Pemerintahan

Index

Berita Lainnya

Index